Info Terkini

SEMOGA KALIAN TIDAK

Setelah sekian lama saya berpuasa. Selama itu pula saya menjadikan Ramadhan sebagai industri.
Saya sibuk mempersiapkan berbagai dagangan. Mulai dari acara TV dan radio. Pentas jelang berbuka. Safari berkeliling menemani pemimpin hingga menemukan rancangan baru dan trend untuk fashion.
Padahal Puasa Ramadhan adalah belajar menolak kesenangan yang menghiasi sebelas bulan kehidupan kita.
Siapa yang tak senang makan? Siapa yang tak senang minum? Siapa yang tak senang bermesraan dengan isteri? Siapa yang tak senang harta benda? Siapa yang tak senang kursi jabatan?
Semua kesenangan itu wajib ditolak, wajib ditahan selama Ramadhan. Sebuah pelajaran untuk bilang "tidak" pada "ya".
Saya ini aneh.....
Untuk tak mabuk dan nyolong serta korup kok butuh undang-undang dan konstitusi sih?
Saya ini aneh...
Untuk membedakan mana kebencian dan kebahagiaan. Untuk memilah baik buruk. Untuk mengatur susah senang, kok harus belajar pada keributan dan kegaduhan sih...?
Kenapa saya tak temukan dengan nurani dan akal sehat? Itu pun belum tentu saya patuhi.
Jadi, untuk menghancurkan peradaban manusia, saya tak lagi memerlukan setan dan iblis. Otak saya sudah pintar menjalankan sistem dan budaya penghancuran ini dengan logika pembenaran yang saya tuangkan dalam naskah kata dan pidato yang berbusa-busa.
Saya sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem kebersamaan untuk belajar dari bencana-bencana itu. Dan setiap bencana hanya melahirkan politisasi bencana dan wisata bencana.
Semoga hanya saya yang tak mengerti Puasa Ramadhan…. Kalian tidak.